29 Mei

Type 1

  1. If a customer … chocolate ice cream from the restaurant, he or she will get extra toppings.
    • orders
    • order
  2. The hotel front desk clerk … you special price room rates if you don’t ask.
    • wouldn’t offer
    • won’t offer
  3. If you call Tessa, I … others.
    • will call
    • would call
  4. If I tell the truth, … hurt?
    • will he gets
    • will he get
  5. Unless it snows, the pavements … slippery.
    • will not
    • will not be
  6. If he … the book, I will borrow it in my university library.
    • hasn’t
    • doesn’t have
  7. The manager … your current income if you can stay focused when working from home.
    • will double
    • doubles
  8. You will make your parents sad if you … responsible for your life.
    • don’t
    • aren’t
  9. If you come to her house, she … something delicious for you.
    • will be cooked
    • will cook

Type 2

  1. If I … his mind, I wouldn’t let him touch my PC.
    • could read
    • would read
  2. If I … him, I would quit my job and start a business.
    • was
    • were
  3. If he were here, I … him not to enter the room without permission.
    • would advise
    • would advice
  4. It … appreciated if you returned the form as soon as possible.
    • would be greatly
    • would greatly
  5. … I rich, I would send my son to study overseas.
    • Were if
    • Were
  6. If he studied harder, he … the best score in his class.
    • would got
    • would get
  7. Your parents wouldn’t be angry if you … to them.
    • didn’t lie
    • don’t lie
  8. Unless Reny got enough sleep, she … productive.
    • wouldn’t
    • wouldn’t be

Type 3

  1. If you … an umbrella, you wouldn’t have got wet.
    • had took
    • had taken
  2. If you … about personal financial planning, you could’ve spent your money wisely.
    • had known
    • had knew
  3. She … your calls if you had reply her text message fast.
    • wouldn’t have been ignored
    • wouldn’t have ignored
  4. Had you treated your maid better, she …
    • wouldn’t have ran away
    • wouldn’t have run away
  5. If he had come to ask forgiveness, … his apologies?
    • would you have accept
    • would you have accepted
  6. If our friend hadn’t forgotten to renew his visa, he …
    • wouldn’t have been deported
    • wouldn’t have deported
  7. If the student … the instructions carefully, he wouldn’t have broken an dessicator.
    • have listened and followed
    • had listened and followed
  8. If the driver …, he wouldn’t have crashed concrete road separators.
    • hadn’t got enough sleep
    • had got enough sleep


  1.  orders | a customer = singular subject, gunakan “orders”
  2. won’t offer | gunakan won’t (will not) pada conditional sentence type 1, bukan wouldn’t (would not)
  3. will call | gunakan will pada conditional sentence type 1, bukan would
  4. will he get | verb setelah modal auxiliary verb (will) berbentuk dasar (bare infinitive) tanpa penambahan -s/-es
  5. will not be | Karena slippery = adjective, maka perlu digunakan verb to be. Verb to be yang dapat berada diantara modal dan adjective adalah “be”.
  6. doesn’t have | Verb “have” membutuhkan dummy auxiliary verb “do/does/did” untuk membentuk negative sentence.
  7. will double | Conditional sentence type 1 menggunakan modal verb, bukan hanya verb.
  8. aren’t | Karena responsible = adjective, maka perlu digunakan verb to be. Verb to be yang cocok dengan subject “you” adalah “are”.
  9. will cook | Kalimat menggunakan active voice.
  10. could read
  11. were
  12. would advise
  13. would be greatly
  14. Were
  15. would get
  16. didn’t lie
  17. wouldn’t be
  18. had taken
  19. had known
  20. wouldn’t have ignored
  21. wouldn’t have run away
  22. would you have accepted
  23. wouldn’t have been deported
  24. had listened and followed
  25. had got enough sleep



artikel simple past & present perfect

26 Apr

This Year, Rupiah Is Predicted Will Be Number 1 In Asia

Some analysts of the most accurate version of Bloomberg predicted that Rupiah will rise from the worst position to be the number one among other Asian currencies this year.

According to Lloyds Banking Group Plc, the rupiah will strengthen by 6.8 percent in 2014 to a level of 11,400 per U.S. dollar. Meanwhile, Societe Generale SA will see the rupiah was at 10,250 at the end of next year. In comparison, the median of 23 analysts surveyed by Bloomberg predict the rupiah will be at the level of 12,200 per U.S. dollar.

Among the 10 countries of Asia, only China can beat Indonesian growth.

There are several factors that will allegedly keep the Rupiah. One of them, a steady growth of the Indonesian economy and the reduce of trade deficit. Two factors are again the main attraction for foreign funds to re-invest in Indonesia.

“We predict the current value of the rupiah is below as it should be (undervalued) considered the dynamic growth in Indonesia,” said Jeavon Lolay, Global Research Director of Lloyds .

He added that the Indonesian economy will move in line with the positive growth in the global economy, which in turn will help to restore the level of exports in the next second quarter.

As a record, Indonesia’s currency has gained 0.7 percent this month to 12,085 per U.S. dollar. This is the best reinforcement among 11 Asian most frequently currencies traded.



  • Simple past tense : di underline

I/You/We/They/He/She/It + V II

  • Present perfect tense: di bold

He/She/It + has + V III





24 Des



JURNAL        : Jurnal Economia, Volume 8, Nomor 1, April 2012.

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) merupakan perusahaan yang bergerak di industry pesawat terbang dan sahamnya dimiliki Negara. Tujuan awal pembentukan PT DI yang dulu bernama PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (PT IPTN) adalah untuk mengembangkan industry penerbangan di Indonesia dan mencukupi pasar penerbangan. Sejak pertama kali didirikan PT DI telah mengalami berbagai tantangan dan beberapa kali mengalami perubahan nama.

Dalam penelitian ini meninjau perjalanan kasus yang dihadapi PT DI dalam rentang tahun 1960-2007, dimana PT DI mengalami berbagai permasalahan yang terkait dengan isu-isu etika bisnis. Tujuan dalam penelitian ini sendiri adalah untuk mengungkapkan isu etika dan fenomena penanggulangan terjadinya suatu masalah dalam suatu organisasi bisnis.


Simpulan :

Konsep teori etika merupakan suatu konsep ideal yang dapat diterapkan sebagai suatu organisasi bisnis. Penerapan konsep tersebut dalam organisasi bisnis sering mengalami hambatan dan tantangan. Hal ini dimana suatu organisasi bisnis yang sedang mengalami dilemma etis dalam mengambil keputusan harus mengambil keputusan dengan bijak. Di sini, moral motive individu memegang peran penting dalam pengambilan keputusan. Moral motive yang dimiliki individu dapat menjadi motor dalamo rganisasi untuk mengambil keputusan etis. Kumpulan individu yang mempunyai moral motive dalam organisasi dapat mewarnai keputusan organisasi menjadi lebih etis.


SUMBER       :,%20SE,%20M.Sc/798-2720-1-PB.pdf



review jurnal 2 : Pengaruh Etika Bisnis Terhadap Kejahatan Korporasi dalam Lingkup Kejahatan Bisnis

13 Des

Judul : Pengaruh Etika Bisnis Terhadap Kejahatan Korporasi dalam Lingkup Kejahatan Bisnis
Nama Peneliti : Elfina Lebrine S.
Tempat Penelitian : Surabaya
Tahun Penelitian : 2010
Variabel Penelitian : Etika Bisnis dan Kejahatan Korporasi

Perkembangan korporasi pada permulaan jaman modern dipengaruhi oleh bisnis perdagangan yang sifatnya makin kompleks. Pertumbuhan korporasi di tanah air semakin meningkat dalam berbagai usaha. Berbagai produk dan jasa dihasilkan dalam jumlah besar, begitu pula ribuan dan bahkan jutaan orang terlibat dalam kegiatan korporasi. Dengan memasarkan produknya, maka korporasi sekaligus mempengaruhi dan ikut menentukan pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa, sebab dalam kenyataannya bukan produsen yang harus menyesuaikan permintaan konsumen, akan tetapi justru sebaliknya konsumen yang akan menyesuaikan kebutuhannya dengan produk – produk yang dihasilkan oleh korporasi. Perkembangan yang pesat dari korporasi ini terutama dipengaruhi oleh perubahan dan perkembangan masyarakat itu sendiri, yakni perkembangan masyarakat agraris ke masyarakat industri dan perdagangan (internasional) pada dasawarsa terakhir ini.

Pertumbuhan korporasi di tanah air semakin meningkat dalam berbagai usaha. Berbagai produk dan jasa dihasilkan dalam jumlah besar, begitu pula ribuan dan bahkan jutaan orang terlibat dalam kegiatan korporasi. Dengan memasarkan produknya, maka korporasi sekaligus mempengaruhi dan ikut menentukan pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa, sebab dalam kenyataannya bukan produsen yang harus menyesuaikan permintaan konsumen, akan tetapi justru sebaliknya konsumen yang akan menyesuaikan kebutuhannya dengan produk-produk yang dihasilkan oleh korporasi.

Indonesia saat ini dilanda kriminalitas kontemporer yang mengancam lingkungan hidup, sumber energi dan pola-pola kejahatan di bidang ekonomi seperti kejahatan Bank, kejahatan komputer, penipuan terhadap konsumen berupa barang-barang produksi kualitas rendah yang dikemas indah dan dijajakan lewat iklan besar-besaran dan berbagai pola kejahatan korporasi lainnya. Modus operandi yang digunakan untuk melakukan kejahatan tersebut dahulu tidak dikenal dan tidak pernah dipikirkan oleh para pelaku kejahatan, namun saat ini menjadi suatu “trend” modus kejahatan.


Salah satu penyebab terpuruknya ekonomi Indonesia dalam menjalankan bisnisnya tidak mengabdi pada kepentingan nasional, tetapi justru menjarah harta rakyat bahkan dibawa keluar negeri. Hal ini karena sejak awal para konglomerat dalam menjalankan usahanya tidak melandaskan kegiatan ekonomi dan bisnisnya dengan etika. Menurut Liek Wilardo (1996) Etika Bisnis adalah tela’ah tentang pertimbangan untuk menyetujui sikap dan tindakan manusia berdasarkan benar-salah atau baik-buruknya sikap dan atau tindakan itu. Dari hasil penelitian ini peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa Sektor korporasi yang mampu berperan positif bagi pembangunan nasional adalah sektor korporasi yang merupakan aset nasional dan bukan korporasi yang hanya menjadi beban dan parasit masyarakat. Kelompok sektor korporasi ini adalah kelompok yang patuh etika bisnis, misalnya patuh pada tata kelola korporasi yang baik, taat pada aturan main persaingan bisnis yang sehat, dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan kata lain, peran positif terhadap pembangunan nasional ini menunjuk pada korporasi yang mampu mempraktekkan prinsip etika bisnis dan juga prinsip good corporate governance dalam menjalankan kegiatan bisnisnya.

Perusahaan yang ingin mencatat sukses dalam bisnis membutuhkan 3 (tiga) hal pokok, yakni: produk yang baik dan bermutu, manajemen yang mulus dan etika. Kemudian pembaharuan hukum dapat menciptakan insentif atau dorongan bagi publik untuk ikut memperhatikan perilaku korporasi. Lalu bagi para pelaku White Collar Crime, penghukuman atau penuntutan secara pidana dan penahanan dapat menimbulkan suatu celaan atau kutukan sosial. Berbagai undang-undang dan peraturan perundang-undangan yang diperlukan dalam rangka melakukan kegiatan bisnis di Indonesia, saat ini hanya mengatur mengenai aspek hubungan perdata antara pihak yang melakukan transaksi di sektor bisnis yang diatur dengan undang-undang dan tidak memuat ketentuan-ketentuan pidana di dalamnya. Ada kecenderungan pemidanaan terhadap korporasi lebih banyak menggunakan asas “Subsidiaritas”, yakni hukum pidana ditempatkan pada posisi sebagai “Ultimum Remedium”. Namun sebagai upaya Deterrence Effect, untuk pemidanaan terhadap korporasi, dimungkinkan mendudukkan hukum pidana sebagai “Primum Remedium”, karena kejahatan korporasi dapat merusak sendi-sendi kehidupan ekonomi dan membahayakan kelangsungan hidup suatu bangsa.


Tugas etika bisnis 1

19 Nov

Nama : Ghitha Ramdhani Putri

Npm   : 13212139

Kelas : 4EA14





TAHUN                                              : 2014





Dunia bisnis yang tumbuh dengan pesat menjadi tantangan maupun ancaman bagi para pelaku usaha agar dapat memenangakan persaingan dan mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya. Dalam rangka memenangkan persaingan bisnis, mempertahankan pasar yang dimiliki, dan merebut pasar yang sudah ada, maka perusahaan dituntut untuk mempunyai kemampuan mengadaptasi strategi usahanya dan lingkungan yang terus-menerus berubah. Meningkatnya intensitas persaingan dan jumlah pesaing menuntut perusahaan untuk selalu memperhatikan kebutuhan dan keinginan konsumen serta berusaha memenuhi harapan konsumen dengan cara memberikan pelayanan yang lebih memuaskan daripada yang dilakukan oleh pesaing.

Kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan kinerja (atau hasil) yang ia rasakan dibandingkan dengan harapannya. Perbandingan antara harapan dan kinerja tersebut akan menghasilkan perasaan senang atau kecewa di benak pelanggan. Apabila kinerja sesuai bahkan melebihi harapan, maka pelanggan akan merasa senang atau puas. Sebaliknya apabila kinerja berada di bawah harapan, maka pelanggan akan merasa kecewa atau tidak puas. Kepuasan pelanggan merupakan tujuan utama dari aktivitas bisnis, tidak terkecuali Warung Bebek H. Slamet yang ada di Kota Malang. Kepuasan yang dirasakan oleh pelanggan tidak bisa dilepaskan dari diterapkannya etika berbisnis dalam sebuah aktivitas bisnis.

Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk dan tanggung jawab. Etika adalah ilmu yang berkenan tentang yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral, karena ia berperan menentukan apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan oleh seorang individu. Bisnis diartikan sebagai usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan di bidang usaha. Bisnis adalah suatu aktivitas yang mengarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui proses penyerahan jasa, perdagangan atau pengolahan barang (produksi). Dari semua definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu organisasi/pelaku bisnis akan melakukan bisnis dalam bentuk:

  1. Memproduksi dan atau mendistribusikan barang/jasa.
  2. Mencari profit.
  3. Mencoba memuaskan konsumen.

Bisnis harus berlaku etis demi kepentingan bisnis itu sendiri. Jika di dalam kegiatan bisnis secara umum harus menerapkan dan mempertimbangkan nilai-nilai etis/moralitas di dalamnya, maka dalam kegiatan bisnis yang lebih khusus/kecil juga demikian. Adapun prinsip-prinsip etika bisnis, yaitu:

  1. Prinsip Keadilan

Dalam prinsip keadilan mencakup pada keseimbangan dan tanggung jawab. Keadilan kepada pelanggan maupun kepada karyawan merupakan salah satu factor pembentuk dari kepuasan pelanggan. Pada penelitian ini, keadilan sebagai dimensi dari Etika Bisnis berpengaruh secara negative dan tidak signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Hal ini berarti, pernyataan-pernyataan keadilan dalam etika bisnis berpengaruh secara berlawanan terhadap kepuasan pelanggan. Menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama sesuai dengan aturan yang adil, serta dapat dipertanggung jawabkan. Keadilan menuntut agar setiap orang dalam kegiatan bisnis perlu di perlakukan sesuai dengan haknya masing-masing dan agar tidak boleh ada pihak yang dirugikan hak dan kepentingannya.

2. Prinsip Kejujuran


Selain keadilan, dimensi dari etika bisnis adalah kejujuran. Kejujuran menjadi aspek penting dalam menjalankan bisnis. Namun dalam penelitian ini, dimensi kejujuran berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran.

(1) Pertama, jujur dalam pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak. Kejujuran ini sangat penting artinya bagi masing- masing pihak dan sangat menentukan relasi dan kelangsungan bisnis masing-masing pihak selanjutnya. Karena seandainya salah satu pihak berlaku curang dalam memenuhi syarat-syarat perjanjian tersebut, selanjutnya tidak mungkin lagi pihak yang dicurangi itu mau menjalin relasi bisnis dengan pihak yang curang tadi.

(2) Kedua, kejujuran dalam penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding. Dalam pasar yang terbuka dengan barang dan jasa yang beragam dan berlimpah ditawarkan kedalam pasar, dengan mudah konsumen berpaling dari satu produk ke produk yang lain. Maka cara-cara bombastis, tipu menipu, bukan lagi cara bisnis yang baik dan berhasil. Kejujuran adalah prinsip yang justru sangat penting dan relevan untuk kegiatan bisnis yang baik dan tahan lama.

(3) Ketiga, jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan. Kejujuran dalam perusahaan adalah inti dan kekuatan perusahaan itu. Perusahaan itu akan hancur kalau suasana kerja penuh dengan akal-akalan dan tipu-menipu. Kalau karyawan diperlakukan secara baik dan manusiawi, diperlakukan sebagai manusia yang punya hak-hak tertentu, kalau sudah terbina sikap saling menghargai sebagai manusia antara satu dan yang lainnya, ini pada gilirannya akan terungkap keluar dalam relasi dengan perusahaan lain atau relasi dengan konsumen. Selama kejujuran tidak terbina dalam perusahaan, relasi keluar pun sulit dijalin atas dasar kejujuran.

3. Prinsip Kepercayaan

Kepercayaan merupakan dimensi etika bisnis yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan pelanggan. Bisnis kuliner pada umumnya memang harus membarikan kepercayaan kepada konsumen, sehingga dengan adanya kepercayaan tersebut menimbulkan kepuasan bagi seorang pelanggan. Sekali saja sebuah bisnis kuliner tidak dipercaya oleh pelanggan maka, pelanggan akan berpindah kepada yang lain. Faktor kepercayaan menjadi sangat penting dalam iklim bisnis saat ini. Yang memperburuk keadaan, korporat besar dan usaha kecil melanjutkan teknik lama, mencoba memenangkan klien baru. Namun, mereka harus mencoba untuk menghadapi masalah dengan menggunakan hati dengan memelihara teknik membangun kepercayan yang paling efektif terdengar konsumen dan prospek baru. Klien dan prospek mencari kepercayaan dalam hubungan bisnis mereka, tapi membangun kepercyaan dan kredibilitas tidak bisa dilakukan dalam sekejap. Untuk memperkuat kepercayaan, dibutuhkan resiko untuk terbuka dengan klien dan prospek. Ini memungkinkan mereka untuk menerima bisnis sebagai aktivitas yang utuh dengan kelebihan dan kekurangan yang ada saat mengembangkan hubungan. Ketika kepercayaan berimbal-balik, akan ditemukan bahwa keyakinan pelanggan dengan pihak usaha dihargai dengan dukungan dan dorongan mereka atas apa yang telah dilakukan untuk kelangsungan bisnis.






Bahasa Indonesia

26 Jun




  1. Latar Belakang Penulisan
    Diuraikan tentang garis besar yang akan diselidiki/diamati, mengapa diselidiki, bagaimana menyalidikinya dan untuk apa diselidiki atau diteliti.
  2. Rumusan dan Batasan Masalah

Atas dasar latar belakang masalah yang telah dijelaskan sebelumnya, pada bagian ini             mahasiswa/peneliti mulai mengidentifikasi, membatasi dan selanjutnya merumuskan masalah ada, mahasiswa/peneliti dapat menterjemahkan rumusan masalah tersebut dalam bentuk kalimat pertanyaan penulisan.

3. Tujuan Penulisan

Bagian berisi tujuan penulisan yang hendak dicapai, dan hal ini seharusnya mengacu kepada rumusan dan pertanyaan penulisan yang telah dibuat sebelumnya.

4. Manfaat Penulisan

Sedikit berbeda dengan tujuan penulisan, sub bab manfaat penulisan berisikan manfaat penulisan yang dapat diperoleh dari penulisan yang akan dilakukan mahasiswa/peneliti tersebut.





Pengertian karya ilmiah menurut  Eko Susilo, M. 1995:11 suatu karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penulisan dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.

  1. Langkah – langkah menyusun karya ilmiah:

Berikut langkah-langkah dalam penyusunan karya ilmiah:

  1. Memilih Topik dan Tema

Pengertianya topik dan tema sering dikacaukan. Wahab (1994:4) menyebutkan bahwa yang dimaksud topik adalah bidang medan atau lapangan masalah yang akan digarap dalam karya tulis atau penulisan. Sementara itu, tema diartikan sebagai pernyataan sentral atau pernyataan inti tentang topik yang akan ditulis. Topik yang memang masih terlalu luas harus dibatasi menjadi sebuah tema.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan topik adalah berikut ini.

(1) Isu-isu yang masih hangat.

(2) Peristiwa-peristiwa nasional atau internasional.

(3) Sesuatu (benda, karya, orang, dan lain-lain) yang dikaitkan dengan permasalahan politik, pendidikan, agama, dan lain-lain.

(4) Pengalaman-pengalaman pribadi yang berbobot. Dalam pertimbangan ini bila akan menulis karya ilmiah bidang pendidikan maka yang menjadi pertimbangan adalah topic tentang pendidikan.

Cara yang mudah untuk mencari topik adalah dengan membaca secara cepat berbagai sumber informasi, khususnya tentang pendidikan. Hal ini bertujuan antara lain:

(a) menetapkan topik yang akan dikembangkan,

(b) mencari kemungkinan terdapatnya sumber sebanyak mungkin, dan

(c) mencari verifikasi yang memungkinkan dilaksanakannya kegiatan penulisan atau penulisan.

Selanjutnya penulis perlu membatasi topik. Karena itu, penulis hendaknya:

(a) memilih salah satu aspek khusus dari topik yang menjadi pilihannya,

(b) membatasi waktu dan ruang dari aspek yang telah dipilihnya, dan

(c) memilih peristiwa khusus dari pembatasan tersebut.

Selain itu, Wahab (1994:1-2) menyebutkan tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan topik.

Pertama, penulis dapat memilih topik yang telah menjadi minatnya.

Kedua, penulis dapat memilih topik yang diperkirakan dapat mengembangkan minatnya.

Ketiga, topik tersebut mengundang rasa ingin tahu penulis.

Selain ketiga hal itu, latar belakang pengetahuan penulis terhadap topik yang dipilihnya juga sangat berperan.

Dalam pemilihan suatu topik, penulis harus memperhatikan tiga kriteria berikut ini.

(1) Penulis harus mampu menangani topik yang menjadi pilihannya.

(2) Penulis mempunyai keinginan yang cukup besar untuk mengerjakan.

(3) Penulis mempunyai sarana, prasarana, dan waktu yang cukup untuk mengembangkan topik pilihanya.

Setiap topik atau masalah yang dibahas dalam penulisan harus layak. Dalam hal ini, kelayakan suatu masalah penulisan berkaitan dengan banyak faktor. Faktor itu antara lain sebagai berikut.

(a) Kemanfaatan hasil, sejauh mana penulisan terhadap masalah tersebut akan memberikan sumbangan kepada khasanah teori ilmu pengetahuan atau kepada pemecahan masalah-masalah praktis.

(b) Kriteria pengetahuan yang dipermasalahkan, yaitu mempunyai khasanah keilmuan yang dapat dipakai untuk pengajuan hipotesis dan mempunyai kemungkinan mendapatkan sejumlah fakta empiric yang diperlukan guna pengujian hipotesis.

(c) Persyaratan dari segi peneliti, sejauh mana kemampuan peneliti untuk melakukan penulisan. Hal ini setidaknya menyangkut lima faktor, yaitu: biaya, waktu, alat dan bahan, bekal kemampuan teoritis peneliti, dan penguasaan peneliti terhadap metode penulisan yg akan digunakan.

  1. Mengumpulkan Bahan

Setelah memilih topik dan menentukan tema penulisan, penulis mulai mengumpulkan bahan. Bahan bisa didapatkan dari berbagai media cetak maupun elektronika. Bahan-bahan tersebut dikumpulkan terutama yang relevan dengan topik dan tema yang akan ditulis. Pemilihan bahan yang relevan ini bisa dengan cara membaca atau mempelajari bahan secara sepintas serta menilai kualitas isi bahan. Bahan yang sudah terkumpul tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperkaya pengetahuan penulis dan sebagai landasan teoretis dari karya tulis tersebut.

  1. Merencanakan Kerangka Penulisan

Setelah memilih topik dan menentukan tema penulisan, serta mengumpulkan bahan yang relevan, penulis mulai merencanakan susunan kerangka penulisan. Wahab (1994:29) menyebutkan tiga alasan penulis perlu menyusun kerangka penulisan. Tiga alasan tersebut adalah:

(1) penyusunan kerangka dapat membantu penulis mengorganisasikan ide-idenya,

(2) penyusunan kerangka mempercepat proses penulisan, dan

(3) penyusunan kerangka dapat meningkatkan kualitas bahasa.

  1. Penulisan Karya Ilmiah

Setelah kerangka penulisan karya ilmiah tersusun, langkah selanjutnya yang dilakukan penulis adalah mengembangkan kerangka penulisan karya ilmiah tersebut menjadi paragraf-paragraf pengembangan. Pengembangan sebuah paragraf harus memperhatikan hal-hal berikut ini.

(1) Pilihan kata dalam setiap kalimat dalam paragraf.

(2) Kalimat-kalimat dalam paragraf harus saling mendukung (tidak ada kalimat sumbang, yakni yang tidak mendukung ide pokok dalam paragraf).

(3) Setiap paragraf mengandung satu ide pokok yang dikembangkan dengan beberapa ide penjelas.

(4) Bahasa yang digunakan mengikuti kaidah yang berlaku.

(5) Ejaan dan tanda baca harus diperhatikan.

(6) Ada keterpaduan antara paragraf satu dengan paragraf berikutnya.

  1. Penyuntingan, Revisi, dan Draf Final

Setelah kerangka dikembangkan menjadi beberapa paragraf dengan memperhatikan beberapa hal dalam pengembangannya, kegiatan berikutnya adalah penyuntingan. Penyuntingan ini dapat dilakukan oleh penulis itu sendiri, dapat juga dengan bantuan orang lain.

Proses penyuntingan ini meliputi beberapa unsur, yaitu:

(a) teknis penulisan (sistematika, ejaan, dan tanda baca),

(b) kalimat,

(c) paragraf,

(d) bahasa, dan

(e) isi.

Setelah melalui proses penyuntingan ini, penulis mulai merevisi karya tulisnya. Pada akhirnya, draf final karya tulis ilmiah tersebut dapat disusun dan dipublikasikan.

Kerangka Penyusunan Karya ilmiah

Kerangka karya ilmiah terdiri dari:

  1. Judul
    2. Lembar Pengesahan
    3. Abstrak/Ringkasan
    4. Kata Pengantar
    5. Daftar Isi
    6. Daftar Tabel
    7. Daftar Gambar
    8. Daftar Lampiran
    9. Daftar Istilah dan atau Daftar Singkatan [kalau ada]
  2. BAB I Pendahuluan (latar belakang, rumusan dan batasan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan,)
    11. BAB II Tinjauan Pustaka
    12. BAB III Pembahasan adalah jawaban atas perumusan masalah yang ditinjau berdasarkan tinjauan pustaka dan latar belakang belakang penelitian.
    13. BAB IV Penutup adalah Kesimpulan dan Saran.
    14. Daftar Pustaka
    15. Lampiran.




Disemua uraian penutup yang dimuat dalam makalah ini, terdapat beberapa hal yang harus dicermati. Pertama , sebuah karya ilmiah sebagai mana dalam makalah ini adalah suatu pemikiran yang utuh. Karya tersebut merupakan sebuah gagasan lengkap, yang mungkin sangat rumit atau sederhana saja. Dalam menulis karya ilmiah, seorang penulis diharapkan mampu untuk mengkomunikasikan temuan atau gagasan ilmiahnya secara lengkap dan gambling agar mudah dipahami. Kedua, menulis karya ilmiah berbeda dengan karya imajinatif. Persiapan yang seksama dan pemikiran yang matang dan runtut perlu diperhatikan. Ketiga, dalam menyampaikan pemikirannya, penulis tidak mungkin mengabaikan perkembangan yang terjadi di sekitarnya, khususnya yang terjadi dalam bidang keilmuannya sendiri. Keempat, sarana utama dalam menyusun dan menyampaikan pemikiran adalah bahasa,. Bahasa sebuah sistem komunikasi memiliki aturan- aturan sendiri sekalipun sistem itu terus berkembang. Terakhir adalah masalah tanggung jawab, sekalipun kata ini tidak banyak muncul dalam buku ini, tulisan-tulisan yang ada mengajak pembaca untuk menyadari bahwa seorang penulis mempunyai berbagai tanggung jawab.

Dalam menulis kerangka tulisan ilmiah yang perlu diperhatikan adalah bagian-bagian dalam tulisan ilmiah, terutama dalam jurnal ilmiah antara lain, judul tulisan, nama dan alamat penulis, abstrak, pengantar, permasalahan penulisan, bahan dan cara penulisan, hasil, pembahasan, kesimpulan, ucapan terima kasih, dan daftar putaka.

Tugas Bahasa Indonesia

24 Apr

Oliver Sheldon

Lahir 1894
Wafat 1951

Pekerjaan CEO Rowntree Perusahaan
Ph.D., Johnson Graduate School of Management, Cornell University, Manajemen dan Organisasi
B.S., University of Washington, Psikologi
keahlian: Kelompok dan Tim, Konflik dan Negosiasi; Manajerial Penghakiman Pengambilan Keputusan
mengajar: Negosiasi, Perilaku Organisasi.
Oliver Sheldon (1894-1951) adalah seorang direktur Rowntree Perusahaan di York , di Inggris , pada tahun 1920 .

Ia terlibat dalam restrukturisasi manajemen dan organisasi perusahaan permen berkembang pada tahap di mana pertumbuhannya dimaksud dengan kebutuhan itu untuk menjauh dari pribadi , manajemen berpusat pada keluarga pendirinya , Joseph Rowntree , menuju budaya yang lebih profesional . Di bawah pimpinan putra Yusuf , Seebohm , perusahaan mengadopsi proposal Sheldon untuk gaya yang lebih fungsional organisasi , tetapi ia marah ini dengan keyakinan , bersama oleh manajer senior perusahaan Rowntree itu , industri yang ada selama lebih dari keuntungan pemegang saham . Sheldon menyatakan bahwa manajemen yang baik adalah sekitar lebih dari teknik – itu harus peduli dengan pemahaman manusia . ” Kepemimpinan pria panggilan untuk kesabaran , keberanian , dan , di atas semua , simpati . ” Pelayanan kepada masyarakat merupakan motif utama dan dasar dasar industri .

Akibatnya , Sheldon menganjurkan gaya hubungan manusia manajemen yang menempatkan individu dalam konteks manusia yang melibatkan berbagai kebutuhan emosional dan psikologis . Dalam hal ini , ia tidak setuju dengan fundamental sezaman seperti Taylor , yang melihat kebutuhan ekonomi sebagai motivator utama pekerja . Mengantisipasi penulis kemudian seperti Mayo dan Herzberg oleh beberapa tahun , Sheldon berpendapat bahwa, sementara kebutuhan ekonomi dasar harus dipenuhi , kebutuhan pribadi dan masyarakat luas yang sama pentingnya . Industri adalah kunci untuk membentuk masyarakat dan para pemimpin dan manajer industri akibatnya harus bekerja untuk pertimbangan etis yang lebih besar dari keuangan murni . Sementara menekankan perlunya efisiensi , ia melihat layanan dan demokrasi sebagai pelengkap ini – mencerminkan lama didirikan praktek Rowntree , diperkenalkan oleh Joseph dan diperpanjang oleh Seebohm Rowntree dan Oliver Sheldon , seperti memastikan pekerja mereka membayar ” upah layak ” , telah layak kondisi kerja dan dikonsultasikan dan terlibat dalam pengambilan keputusan di tempat kerja . Kedua perusahaan dan direksi masing-masing yang terlibat dalam berbagai pekerjaan masyarakat , sering termotivasi oleh keyakinan agama mereka Quaker dan / atau politik Liberal mereka. Pada tahun 1904 , Joseph Rowntree menyerahkan separuh kekayaan pribadinya dan hampir dua – pertiga dari saham di perusahaan untuk tiga Trust untuk mengejar berbagai amal , sosial dan politik kerja . Ketiganya terus hari ini dalam bentuk Joseph Rowntree Charitable Trust, Joseph Rowntree Foundation ( yang meliputi Joseph Rowntree Perumahan Trust) dan Joseph Rowntree Reformasi Trust. Semua masih berbasis di York.

Meskipun dengan berlalunya waktu , perusahaan Rowntree adalah untuk mengubah dan mengembangkan cara-cara baru ( terutama dengan merek-merek baru dan pemasaran dari tahun 1930-an pada ) , dan pada tahun 1988 dibeli oleh Nestlé , itu mempertahankan tradisi manajemen yang baik di seluruh , dalam menjaga dengan filosofi pendiri dan orang-orang di sekelilingnya . Sheldon dieksplorasi ini dalam bukunya tahun 1924, ” The Philosophy of Management ” , yang menunjukkan kekhawatiran kembarnya untuk bisnis yang sehat dan praktek etis ketika ia menyatakan : ” Biaya membangun Kerajaan Surga tidak akan ditemukan dalam rekening laba rugi dari industri , tetapi dalam catatan pelayanan teliti setiap manusia . ”

Teori Yang Terkenal

Oliver Sheldon (1894 -1951)

Filsafat rnanajemen yang pertama kali ditulis dalam bukunya pada tahun 1923, yang menekankan tentang adanya tanggung jawab sosial dalam dunia , usaha, sehingga etika sarna pentingnya dengan ekonomi alam manajemen, dalam arti melakukan pelayanan barang dan jasa yang tepat dengan harga yang wajar kepada masyarakat. Manajemen juga harus memperlakukan pekerja dengan adil dan jujur. Beliau menggabungkan nilai-nilai efisiensi manajemen ilmiah dengan etika pelayanan kepada masyarakat. Ada 3 prinsip dari Oliver, yaitu :

  1. Kebijakan, keadaan dan metoda industri haruslah sejalan dengan kesejahteraan masyarakat.
  2. Manajemen seharusnyalah mampu menafsirkan sangsi moral tertinggi masyarakat sebagai keseluruhan yang memberi makna praktis terhadap gagasan keadilan sosial yang diterima tanpa prasangka oleh masyarakat.
  3. Manajemen dapat mengambil prakarsa guna meningkatkan standar etika yang umum dan konsep keadilan social.