Jurnal PI

3 Apr

BAB I

PENDAHULUAN

 

  • Latar Belakang

Tingkat persaingan dunia usaha di Indonesia sangat ketat karena setiap perusahaan senantiasa berusaha untuk dapat meningkatkan pangsa pasar dan meraih konsumen baru. Perusahaan harus dapat menentukan strategi pemasaran yang tepat agar usahanya dapat bertahan dan memenangi persaingan sehingga tujuan dari perusahaan tersebut dapat tercapai. Pada dasarnya semakin banyak pesaing maka semakin banyak pula pilihan bagi pelanggan untuk dapat memilih produk yang sesuai dengan harapannya. Sehingga konsekuensi dari perubahan tersebut adalah pelanggan menjadi lebih cermat dan pintar menghadapi setiap produk yang di luncurkan.

Oleh karena itu setiap perusahaan harus bisa memahami keinginan dari para pelanggan dalam proses pengambilan keputusan. Elemen-elemen penting yang terkandung dalam perilaku konsumen adalah proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik yang melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan menggunakan barang-barang dan jasa-jasa ekonomis pengambilan keputusan berkaitan dengan apa saja yang menjadi bahan pertimbangan orang dalam keputusan pembelian dan siapa yang memegang pengaruh dalam proses pengambilan keputusan pembelian. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pembelian konsumen adalah faktor budaya, sosial pribadi dan faktor psikologis.

Setiap perusahaan di tuntut untuk memahami perilaku konsumen dan mencermati perubahannya, terutama perilaku konsumen dalam keputusan pembelian suatu produk bagi PT Unilever keputusan membeli dipandang tepat jika keputusannya tersebut dapat memberikan kepuasan sesuai persepsi atau penilaian individu dalam mendapatkan keuntungan. Salah satunya adalah produk pasta gigi bermerk Pepsodent.

Pepsodent adalah merek pasta gigi yang paling terkenal dan tertua di Indonesia sejak awal keberadaannya selalu memberikan lebih dari sekedar kemanjuran dasar. Pepsodent merupakan pasta gigi pertama di Indonesia yang kembali meluncurkan pasta gigi berfloride pada tahun 1980-an dan satu-satunya pasta gigi di Indonesia yang secara aktif mendidik dan mempromosikan kebiasaan menyikat gigi secara benar melalui program sekolah dan layanan pemeriksaan gigi gratis. Sejak itu Pepsodent telah melengkapi jajaran produknya mulai dari pembersih dasar hingga pasta gigi dengan manfaat lengkap.

Sampai tahun 2014 merek Pepsodent tetap menjadi merek dengan kategori pasta gigi terbaik langganan di Indonesia dibandingkan dengan merek pasta gigi lainnya. Hal ini dapat dilihat dari pasta gigi Pepsodent yang menyandang jawara pada IBBA (Indonesia Best Brand Award) selama 10 tahun berturut-turut. Serta dapat dilihat pula dari terpilihnya Pasta Gigi Pepsodent sebagai Top Brand Award 2013 dan Top Brand Award 2014. Bahkan dari tahun 2013 hingga tahun 2014 mengalami kenaikan presentasenya sebagai penyandang Top Brand dalam kategori pasta gigi. Top Brand index Pepsodent ini dapat dilihat pada tabel 1.1.

Tabel 1.1 Top Brand Award Index 2013 dan 2014 Kategori Pasta Gigi :

Merek Top brand Index 2013 Top brand index 2014
Pepsodent 71,6% 73,1%
Ciptadent 9,1% 8,4%
Close Up 7,5% 6,4%
Formula 7,1% 6,1%
Sensodyne 1,8% *

(Sumber : Top Brand Award 2013 dan 2014 www.topbrand-award.com)

Berdasarkan tabel 1.1 dapat terlihat bahwa perubahan tersebut perlu disikapi dengan baik apa penyebab yang mempengaruhi keputusan pembelian pada produk pasta gigi. Pada kasus ini layak untuk dilakukan penelitian merek pasta gigi di Indonesia. Pada tahun 2013-2014 terjadi peningkatan yang di pegang oleh pasta gigi Pepsodent dengan nilai top brand index sebesar 71,6% hingga 73,1%. Pada tahun 2013 Ciptadent, Close Up, Formula dan Sensodyne mengalami penurunan di tahun 2014.

Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah yang ada, maka penulis mengajukan sebuah penelitian dengan judul “ANALISIS PENGARUH BAURAN PEMASARAN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN PASTA GIGI PEPSODENT DI KOMPLEK DEPPEN – KEC. SUKATANI”.

  • Rumusan dan Batasan Masalah
    • Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani?
  2. Bagaimana pengaruh produk terhadap keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani?
  3. Bagaimana pengaruh harga terhadap keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani?
  4. Bagaimana pengaruh promosi terhadap keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani?
  5. Bagaimana pengaruh saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani?

 

  • Batasan Masalah

Batasan masalah dalam penulisan ilmiah ini adalah sebagai berikut :

  1. Variabel yang digunakan hanya ada 4 variabel X dan 1 variabel y yaitu variabel produk (X1), variabel harga (X2), variabel promosi (X3), dan variabel saluran distribusi (X4) terhadap keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani (Y).
  2. Sampel yang dipakai hanya 183 responden yang memakai pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.
  • Tujuan Penelitian

Dengan melihat permasalahan yang ada dalam penelitian ini, maka tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk menguji dan menganalisis apakah bauran pemasaran mempengaruhi keputusan pembelian pasta gigi di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.
  2. Untuk menguji dan menganalisis apakah produk mempengaruhi keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.
  3. Untuk menguji dan menganalisis apakah harga mempengaruhi keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen– Kec. Sukatani.
  4. Untuk menguji dan menganalisis apakah promosi mempengaruhi keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.
  5. Untuk menguji dan menganalisis apakah saluran distribusi mempengaruhi keputusan pembelian pasta gigi Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani
  • Manfaat Penelitian

Adapun hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :

  1. Bagi Perusahaan

Memberikan informasi bagi perusahaan tentang pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian pasta gigi.

  1. Bagi Pihak Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mendalami karakteristik dan permasalahan yang muncul, khususnya di bidang manajemen pemasaran.

  1. Bagi Penulis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam bidang pemasaran, terutama sebagai acuan bagi studi ilmiah tentang bagaimana menganalisis pengaruh bauran pemasaran terhadap keputusan pembelian pasta gigi. Selain itu juga untuk memberikan sumbangan informasi, bahan referensi dan bacaan yang dapat menambah pengetahuan bagi pembacanya.

  • Metode Penelitian
    • Objek Penelitian

Dalam penulisan ilmiah ini, objek yang penulis teliti adalah warga Komplek Deppen – Kec. Sukatani, yang berada di sekitar wilayah Depok dan sekitarnya.

  • Data Variabel Penelitian

Data yang digunakan berdasarkan rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah data primer karena data yang digunakan yaitu data yang langsung berasal dari warga komplek Deppen – Kec. Sukatani. Data berupa observasi dan kuisioner yang berisikan beberapa pertanyaan terkait produk, harga, promosi dan saluran distribusi pasta gigi pepsodent. Sedangkan data sekundernya penulis dapatkan dengan menggunakan buku-buku atau referensi lain yang berkaitan dengan penulisan ini.

  • Metode Pengumpulan Data

Dalam melaksanakan penyusunan ini penulis mempergunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :

  1. Observasi

Penulis melakukan pengamatan langsung ke lokasi, yaitu Komplek Deppen – Kec. Sukatani untuk mendapatkan informasi yang di perlukan.

  1. Angket atau Kuisioner

Suatu teknik pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan yang telah disusun kepada responden, dengan harapan mereka akan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut.

  1. Wawancara

Selama observasi dilakukan, penulis juga melakukan wawancara dan komunikasi langsung dengan warga Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  • Hipotesis

Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, batasan penelitian, tujuan penelitian serta uraian diatas maka hipotesis yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini antara lain :

  1. Ho : Tidak ada pengaruh bauran pemasaran antara (X1) produk, (X2) harga, (X3) promosi, dan (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh bauran pemasaran antara (X1) produk, (X2) harga, (X3) promosi, dan (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen- Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X1) produk terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X1) produk terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X2) harga terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X2) harga terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X3) promosi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X3) promosi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  • Alat Analisis Yang Digunakan

Metode yang digunakan penulis dalam mengelola data adalah analisis linier regresi berganda dan metode uji skala likert.

1.7.1 Regresi Linier Berganda

Regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,…Xn) dengan variabel dependen (Y). Maka persamaan regresi yang terbentuk sebagai berikut :

Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+…+bnXn
Keterangan: :
Y                     : Variabel terikat (dependent)

X (1,2,3,…)      : Variabel bebas (independent)

a                      : Nilai konstanta

b (1,2,3,…)       : Nilai koefisien regresi

  • Uji Skala Likert

Uji skala likert adalah skala yang dikembangkan melalui metode likert, dimana subjek harus diindikasikan dengan pernyataan yang berkaitan dengan perilaku suatu objek. Skala ini memberikan skor 1-5 untuk mengetahui drajat responden terhadap serangkaian pertanyaan yang terdapat didalam kuesioner. Berikut adalah penilaian tingkat kepuasan pelanggan.

Mutu Bobot
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Normal 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1

Keterangan :

  1. Jawaban Sangat Setuju diberi nilai 5
  2. Jawaban Setuju diberi nilai 4
  3. Jawaban Normal diberi nilai 3
  4. Jawaban Tidak Setuju diberi nilai 2
  5. Jawaban Sangat Tidak Setuju diberi nilai 1

1.7.3 Uji Validitas dan Reliabilitas

Untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap pernyataan-pernyataan dalam kuesioner penelitian ini, peneliti menyebarkan keusioner kepada 183 responden.

  1. Uji Validitas

Validitas memiliki arti tentang derajat ketetapan suatu alat ukur tentang pokok isi atau arti sebenarnya yang diukur. Semua instrumen dianggap valid, apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Simamora 2004, p.172). Validitas berhubungan dengan apakah suatu instrumen mengukur yang seharusnya diukur. Uji validitas dilakukan untuk melihat pemahaman responden mengenai maksud dari pernyataan yang ada, sehingga jawaban yang diberikan akan mencerminkan keadaan sebenarnya. Menurut Sudarmanto (2002, p.88), butir pernyataan yang dikatakan valid adalah butir pernyataan yang memiliki korelasi (r) dengan total skor lebih besar dari 0,3 (r > 0,3).

  1. Uji Reliabilitas

Menurut Uyanto (2006, p.239), suatu instrumen pengukuran dikatakan reliable bila memberikan hasil skor yang konsisten pada setiap pengukuran. Dengan menggunakan analisis reliabilitas, dapat diketahui hal-hal sebagai berikut:

  1. Bagaimana butir-butir pernyataan dalam kuesioner saling berhubungan.
  2. Nilai alpha cronbach yang merupakan indeks internal consistency dari skala pengukuran secara keseluruhan.
  3. Butir-butir pernyataan yang bermasalah yang harus direvisi atau dihilangkan.

Alpha Cronbach merupakan salah satu koefisien reliabilitas yang paling sering digunakan. Menurut Nunnaly dan Bernstein (Uyanto, 2006, p.240), skala pengukuran yang reliable sebaiknya memiliki nilai Alpha Cronbach minimal 0,7. Alpha Cronbach dapat diinterprestasikan sebagai korelasi dari skala yang diamati dengan semua kemungkinan pengukuran skala lain yang mengukur hal yang sama dan menggunakan jumlah butir pernyataan yang sama.

1.7.4 Uji F (Uji Simultan)

Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabelbebas terhadap variabel terikat. Dimana Fhitung > Ftabel, maka H1 diterima atau secara bersama-sama variabel bebas dapat menerangkan variabel terikatnya secara serentak. Sebaliknya apabila Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima atau secara bersama-sama variabel bebas tidak memiliki pengaruh terhadap variabel terikat. Untuk mengetahui signifikan atau tidak pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat naka digunakan probability sebesar 5% (α= 0,05).

Jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima H1 ditolak.

Jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak H1 diterima.

 

1.7.5 Uji T (Uji Parsial)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Dimana Ttabel > Thitung, H0 diterima. Dan jika Ttabel < Thitung, maka H1 diterima, begitupun jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima H1 ditolak dan jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak H1 diterima.

BAB II

LANDASAN TEORI

 

2.1 Kerangka Teori

2.1.1 Pengertian Manajemen Pemasaran

Menurut (Kotler dan amstrong , 2008) pemasaran adalah proses sosial dan manajerial di mana pribadi atau organisasi memperoleh yang di butuhkan dan diinginkan melalui penciptaan dan pertukaran nilai dengan yang lain. Sedangkan menurut (Tjiptono, 2006) pemasaran memiliki definisi suatu proses sosial dan manajerial dimana individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan,penawaran, dan pertukaran segala sesuatu yang bernilai dengan orang atau kelompok lain. mengatakan pemasaran adalah suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga dan promosi sejumlah ide, barang dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi.

Pemasaran merupakan suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dipihak lain (Kotler, 2009:7). Pemasaran merupakan sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditunjukan untuk merencanakan, menentukan harga mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan kepada pembeli yang ada maupun pembeli potensial (Swastha, 2010:179).

Pemasaran merupakan ujung tombak kegiatan bisnis yang dilakukan oleh organisasi atau perusahaan, khususnya perusahaan yang memiliki tujuan untuk memperoleh laba, memperbesar volume penjualan, mengiginkan pertumbuhan, memiliki pangsa pasar dan untuk menciptakan pelanggan yang loyal (Surachman, 2010:1). Menurut (Kotler dan Keller, 2009:9) pemasaran terbagi atas 10 jenis entitas, yaitu:

  1. Barang.
  2. Jasa.
  3. Pengayaan pengalaman.
  4. Peristiwa.
  5. Orang.
  6. Tempat.
  7. Properti.
  8. Organisasi.
  9. Informasi.
  10. Gagasan.

Manajemen pemasaran adalah proses menganalisis, merencanakan, mengkoordinasikan dan mengendalikan program-program yang mencakup pengkonsepan, penetapan harga, promosi dan distribusi dari produk, jasa dan gagasan yang dirancang untuk menciptakan dan memelihara pertukaran yang

menguntungkan dengan pasar sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan (www.info-manajemen.com). Pemasaran adalah “suatu proses sosial dan manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan kebutuhan dan keinginan mereka dengan menciptakan, menawarkan, dan bertukar sesuatu yang bernilai satu sama lain” (Daryanto, 2011:1).

Pemasaran adalah kegiatan memasarkan barang tidak berarti hanya menawarkan barang atau menjual tetapi lebih dari itu. Yang dimana terdapat kegiatan membeli, menjual dengan segala macam cara yang menyangkut barang, menyimpan dan mensortir (Alma, 2011:1).

Secara umum, tujuan sistem pemasaran adalah memaksimumkan konsumsi, memaksimumkan kepuasan konsumsi, memaksimumkan pilihan,

memaksimumkan mutu hidup, serta meningkatkan kualitas, kuantitas, ketersediaan, harga, dan memperoleh laba bagi perusahaan. Tujuan pemasaran

dapat tercipta dengan melakukan analisa dalam hal bauran pemasaran (marketing mix), marketing mix merupakan seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk terus menerus mencapai tujuan pemasaranya di pasar sasaran (Kotler, 2009:101).

Konsep pemasaran sederhana dan secara intuisi merupakan filosofi yang menarik. Pemasaran merupakan suatu proses perencanaan dan menjalankan konsep, harga, promosi, dan distribusi sejumlah ide, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang mampu memuaskan tujuan individu dan organisasi. Mujiyana dan Damerianata ( 2009 ).

Sedangkan menurut swasta dan Handoko (2000, p.6) pemasaran adalah sebuah falsafah bisnis yang menyatakan bahwa pemuasan kebutuhan konsumen merupakan syarat ekonomi dan sosial bagi kelangsungan hidup perusahaan sebagai falsafah bisnis, konsep pemasaran bertujuan memberikan kepuasan terhadap keinginan dan kebutuhan konsumen, atau berorientasi kepada konsumen (consumer oriented).

2.1.2 Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

“Bauran pemasaran atau yang sering disebut dengan istilah Marketing Mix adalah kumpulan alat pemasaran taktis terkendali yang dipadukan perusahan untuk dapat menghasilkan respons sesuai yang diinginkannya dipasar sasaran.” (Kotler & Armstrong, 2006: 62). Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa marketing mix atau yang dikenal dengan istilah bauran pemasaran merupakan kumpulan alat pemasaran taktis yang terdiri atas 4P produk (product), harga (price), tempat (place), dan promosi (promotion) yang dengan sengaja dipadukan oleh perusahaan untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan apa yang diinginkan.

Bauran pemasaran adalah proses penggabungan dalam strategi pemasaran yang disesuaikan dengan kondisi masing- masing perusahaan yang terstandarisasi dengan produk, harga yang rendah promosi dan saluran distribusi.

2.1.3 Variabel Bauran Pemasaran

Menurut ( philip Kotler : 2006 ) dapat dikatakan bahwa hampir semua orang baik secara langsung di pakai perusahaan sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan konsumen yang di kategorikan sebagai marketing mix 4 yang terdiri dari beberapa variabel antara lain yaitu :

  1. Produk

“Produk berarti kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan kepada pasar sasaran” (Kotler & Armstrong, 2006: 62). Suatu perusahaan ada karena menghasilkan produk untuk ditawarkan kepada konsumen yang akan dipertukarkan dengan alat pemuas kebutuhan atau uang. Produk yang ditawarkan mencakup berbagai bentuk mulai dari barang yang dapat dilihat secara fisik atau jasa dan bahkan orang (seperti kandidat politik). “Produk adalah segala sesuatu yang memiliki nilai di suatu pasar sasaran dimana kemampuannya memberikan manfaat dan kepuasan termasuk benda, jasa, organisasi, tempat orang dan ide” (David W. Cravens, 1996: 3).

Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan keinginan atau kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa, pengalaman, acara-acara, orang, tempat, properti, organisasi, dan gagasan Philip Kotler (2007). Variabel produk dapat diukur dengan indikator (Fitri Komalasari : 2004).

  1. Desain kemasan yang menarik

Persepsi konsumen terhadap desain kemasan produk yang menarik.

  1. Kualitas produk

Persepsi konsumen terhadap kualitas produk pepsodent yang baik.

  1. Features (keistimewaan)

Persepsi konsumen terhadap produk yaitu membuat nafas menjadi segar, menghindarkan bau mulut.

  1. Harga

“Harga adalah sejumlah uang yang ditagihkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai yang ditukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa” (Kotler & Armstrong, 2006: 345). Harga merupakan satu-satunya elemen yang flexibel. “Harga dapat diartikan sebagai jumlah uang (satuan moneter) dan atau aspek lain (non moneter) yang mengandung utilitas atau kegunaan tertentu yang dipergunakan untuk mendapatkan suatu produk” (Tjiptono, 2008: 465).

Harga adalah apa yang harus di berikan oleh pembeli untuk mendapatkan suatu produk. (Kotler & Amstrong, 2008:345) mendefinisikan harga adalah sejumlah uang yang di tagihkan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari suatu nilai yang di tukarkan para pelanggan untuk memperoleh manfaat dari memiliki atau menggunakan suatu produk atau jasa.

  1. Promosi

Suatu perusahaan dalam memasarkan produknya perlu merancang dan menyebarkan informasi tentang kehadirannya, ketersediaanya, ciri-ciri produk dan kondisi produknya serta manfaat yang dapat diperoleh paran pelanggan/calon pelanggan atas produk yang ditawarkan oleh perusahaan tersebut. Usaha untuk mengenalkan produk kepada pasar yaitu dilakukan strategi promosi. Konsep yang dipakai untuk mengenalkan produk yaitu promotion mix, kegiatan-kegiatan yang mengkombinasikan keunggulan produk dan membujuk konsumen untuk membeli (Swasta, 2010:349). Promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh perusahaan dalam memasarkan produk.

Menurut Hurriyati (2005) tujuan utama dari promosi adalah menginformasikan, mempengaruhi dan membujuk serta mengingatkan pelanggan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasaran. Promosi adalah suatu bentuk komunikasi pemasaran (Tjiptono :2006). Variabel promosi dapat diukur dengan indikator (Fitri Komalasari :2004) :

  1. Counter layout yang menarik

Persepsi konsumen terhadap penempatan produk pepsodent di beberapa toko minimarket wilayah Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Penayangan iklan di media cetak dan elektronik

Persepsi konsumen terhadap pembelian pepsodent karena adanya penayangan di media cetak dan elektronik.

  1. Isi pesan iklan media cetak sesuai dengan produk

Persepsi konsumen terhadap iklan media yang sesuai dengan produk pepsodent.

  1. Distribusi

(Kotler, Amstrong 2008:63) mendefinisikan saluran distribusi adalah kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran. Saluran distribusi sering disebut saluran perdagangan atau saluran pemasaran. Fungsi saluran distribusi adalah menyalurkan barang dari produsen ke konsumen, maka perusahaan dalam melaksanakan dan menentukan saluran distribusi harus melakukan pertimbangan yang baik.

Distribusi adalah segala kegiatan untuk memindahkan barang dalam kuantitas tertentu, kesuatu tempat tertentu (Tjiptono :2006). Variabel distribusi dapat diukur dengan indikator (Fitri Komalasari :2004) :

  1. Kemudahan mendapatkan suatu produk

Persepsi konsumen terhadap kemudahan mendapatkan produk pasta gigi merek pepsodent dibandingkan dengan mendapatkan merek produk pasta gigi lainnya.

  1. Tersebar dimana-mana

Persepsi konsumen terhadap produk pepsodent yang keberadaannya tersebar di berbagai toko.

  1. Terdapat layanan kritik dan saran

Persepsi konsumen terhadap customer service pelayanan kritik dan saran pepsodent yaitu terdapatnya kotak kritik dan saran di setiap toko penjual pepsodent.

2.1.4 Keputusan Pembelian

            Pada dasarnya keputusan pembelian sangat dipengaruhi oleh motif-motif

pembelian dimana bisa karena pembeli melaksanakan pembelian hanya pertimbangan (motif = terdorong) secara emosional, seperti bangga, sugesti, dan sebagainya. Tetapi juga pembeli membeli secara rasional seperti harganya (Daryanto, 2011:94).

Keputusan pembelian konsumen merupakan keputusan pembelian konsumen akhir perorangan dan rumah tangga yang membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi (Kotler, 2009:184), sedangkan menurut Tjiptono (2011:25) keputusan pembelian konsumen adalah pemilihan satu tindakan dari

dua atau lebih pilihan alternatif. Perilaku konsumen (consumer behavior) dapat didefinisikan sebagai kegiatan-kegiatan individu yang secara langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa-jasa, termasuk di dalamnya proses pengambilan keputusan pada persiapan dan penentuan kegiatan-kegiatan tersebut (Swastha, 2011:10), Ada 2 aspek penting dari arti perilaku konsumen, diantaranya:

  1. Proses pengambilan keputusan.
  2. Kegiatan fisik yang kesemuanya ini melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang-barang dan jasa ekonomis.

Mempelajari perilaku konsumen akan memberikan petunjuk bagi pengembangan produk baru, keistimewaan produk, harga, saluran pemasaran,

pesan iklan dan elemen bauran pemasaran lainnya. Titik tolak untuk memahami perilaku pembeli adalah rangsangan tanggapan. Rangsangan pemasaran dan lingkungan mulai memasuki kesadaran pembeli. Karakteristik pembeli dan proses pengambilan keputusan menimbulkan keputusan pembelian tertentu. Tugas pemasar adalah memahami apa yang terjadi dalam kesadaran pembeli mulai dari adanya rangsangan dari luar hingga munculnya keputusan pembelian pembeli (Lembang, 2010:14).

Perilaku konsumen akan menentukan proses pengambilan keputusan dalam pembelian mereka, proses tersebut merupakan sebuah pendekatan penyesuaian masalah yang terdiri dari lima tahap yang dilakukan konsumen, kelima tahap tersebut adalah pengenalan masalah, pencarian informasi, penilaian alternatif, membuat keputusan, dan perilaku pasca pembelian.

            Keputusan pembelian konsumen terhadap suatu produk pada dasarnya erat kaitannya dengan perilaku konsumen. Perilaku konsumen merupakan unsur penting dalam kegiatan pemasaran suatu produk yang perlu diketahui oleh perusahaan, karena perusahaan pada dasarnya tidak mengetahui mengenai apa yang ada dalam pikiran seorang konsumen pada waktu sebelum, sedang, dan setelah melakukan pembelian produk tersebut.

Keputusan pembelian merupakan suatu proses pengambilan keputusan akan pembelian yang mencakup penentuan apa yang akan dibeli atau tidak melakukan pembelian dan keputusan itu diperoleh dari kegiatan-kegiatan sebelumnya (Sofjan Assauri,2004:141). Dan pengertian keputusan pembelian di atas dapat disimpulkan bahwa keputusan pembelian adalah perilaku pembelian seseorang dalam menentukan suatu pilihan produk untuk mencapai kepuasan sesuai kebutuhan dan keinginan konsumen yang meliputi pengenalan masalah, pencarian informasi, evaluasi terhadap alternatif pembelian, keputusan pembelian, dan perilaku setelah pembelian.

2.1.5 Tahap-Tahap Proses Keputusan Pembelian

            Dalam membeli suatu produk, seorang konsumen biasanya melalui lima tahap proses keputusan pembelian. Walaupun hal ini tidak selalu terjadi dan konsumen bisa melewati tahap urutannya, namun kita akan menggunakan model dibawah ini, karena model itu menunjukkan proses pertimbangan selengkapnya yang muncul pada saat seorang konsumen melakukan pembelian.

Menurut Philip Kotler (2000:170) ada lima tahap dalam proses keputusan pembelian, yaitu terlihat pada Gambar 2.1 berikut:

Gambar 2.1

Proses Keputusan Pembelian Konsumen

 

 

 

Dari gambar 2.1 tahap-tahap proses keputusan pembelian dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Pengenalan Kebutuhan

Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali sebuah masalah atau kebutuhan. Pembeli merasakan perbedaan antara keadaan aktualnya dengan keadaan yang diinginkannya. Kebutuhan tersebut dapat dicetuskan oleh rangsangan internal atau eksternal. Pemasar perlu mengidentifikasikan keadaan yang memicu kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari sejumlah konsumen, pemasar dapat mengidentifikasikan rangsangan yang paling sering membangkitkan minat terhadap suatu jenis produk. Pemasar kemudian dapat mengembangkan strategi pemasaran yang memacu minat konsumen.

  1. Pencarian Informasi

Seseorang yang tergerak oleh stimulus akan berusaha mencari lebih banyak informasi yang terlibat dalam pencarian akan kebutuhan. Pencarian informasi merupakan aktifitas termotivasi dari pengetahuan yang tersimpan dalam ingatan dan perolehan informasi dari lingkungan. Sumber informasi konsumen terdiri atas empat kelompok, yaitu:

  1. Sumber pribadi meliputi keluarga, teman, tetangga, kenalan.
  2. Sumber komersial meliputi iklan, tenaga penjual, pedagang perantara, pengemasan.
  3. Sumber umum meliputi media massa, organisasi ranting konsumen.
  4. Sumber pengalaman meliputi penanganan, pemeriksaan, penggunaan produk.
  1. Evaluasi Alternatif

Evaluasi alternatif merupakan proses dimana suatu alternatif pilihan disesuaikan dan dipilih untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Konsep dasar dalam proses evaluasi konsumen terdiri atas empat macam:

  1. Konsumen berusaha memenuhi kebutuhan.
  2. Konsumen mencari manfaat tertentu dari solusi produk.
  3. Konsumen memandang setiap produk sebagai kumpulan atribut dengan kemampuan yang berbeda-beda dalam memberikan manfaat yang dicari dalam memuaskan kebutuhan.
  4. Konsumen mempunyai sifat yang berbeda-beda dalam memandang atribut-atribut yang dianggap relevan dan penting. Konsumen akan memberikan perhatian besar pada atribut yang memberikan manfaat yang dicarinya.
  1. Keputusan Pembelian

Keputusan untuk membeli disini merupakan proses dalam pembelian yang nyata. Jadi, setelah tahap-tahap dimuka dilakukan, maka konsumen harusmengambil keputusan apakah membeli atau tidak. Konsumen mungkin juga akan membentuk suatu maksud membeli dan cenderung membeli merek yang disukainya. Namun, ada faktor-faktor lain yang ikut menentukan keputusan pembelian, yaitu sikap orang lain dan faktor-faktor situasional yang tidak terduga. Bila konsumen menentukan keputusan untuk membeli, konsumen akan menjumpai keputusan yang harus diambil menyangkut jenis produk, merek, penjual, kuantitas, waktu pelayanan, dan cara pembayarannya.

  1. Perilaku Pasca Pembeli

Tugas pemasar tidak berakhir saat produk dibeli, melainkan berlanjut hingga periode pasca pembelian. Setelah pembelian produk terjadi, konsumen akan mengalami suatu tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Kepuasan atau ketidakpuasan pembeli terhadap produk akan mempengaruhi tingkah laku berikutnya. Konsumen yang merasa puas akan memperlihatkan peluang membeli yang lebih tinggi dalam kesempatan berikutnya. Konsumen yang merasa puas akan cenderung mengatakan sesuatu yang serba baik tentang produk yang bersangkutan kepada orang lain. Apabila konsumen dalam melakukan pembelian tidak merasa puas dengan produk yang telah dibelinya, ada dua kemungkinan yang akan dilakukan oleh konsumen. Pertama, dengan meninggalkan atau konsumen tidak mau melakukan pembelian ulang. Kedua, ia akan mencari informasi tambahan mengenai produk yang telat dibelinya untuk menguatkan pendiriannya mengapa ia memilih produk itu sehingga ketidakpuasan tersebut dapat dikurangi.

2.1.6 Aspek-Aspek Keputusan Membeli

            Menurut Assael dalam Suryani (2008) menyatakan bahwa ada dua dimensi yang mempengaruhi pengambilan keputusan, yaitu :

  1. Seberapa jauh pembuatan keputusan tersebut.

Dimensi pertama ini menggambarkan rangkaian dari pengambilan keputusan untuk yang bersifat habit/ kebiasaan. Konsumen dapat mendasarkan keputusannya pada proses kognitif (berfikir) dari pencarian informasi dan evaluasi alternatif-alternatif merek. Pada sisi ini konsumen hanya akan melakukan pembelian pada satu merek saja atau selalu terjadi pembelian yang konsisten.

  1. Derajat keterlibatan di dalam pembelian itu sendiri.

Pada dimensi kedua ini, menggambarkan rangkaian keterlibatan pembelian dari tinggi ke rendah. Pembelian dengan keterlibatan tinggi sangat penting bagi konsumen. Seperti beberapa pembelian yang didasarkan pada ego dari image sendiri. Dalam pembelian demikian konsumen akan melibatkan beberapa resiko, seperti finansial risk yaitu produk-produk yang tergolong mahal, social risk yaitu pada produk-produk yang dianggap penting dalam kelompoknya, atau psychological risk yaitu pengambilan keputusan yang salah pada konsumen berakibat fatal atau lebih serius. Sedangkan produk-produk dengan keterlibatan rendah kurang begitu penting bagi konsumen, karena resiko finansial, social, dan psychological tidaklah cukup besar.

Kedua dimensi yang telah disebutkan diatas nantinya akan menggolongkan keputusan membeli dalam empat tipe pengambilan keputusan. Keputusan tipe tersebut adalah pengambilan keputusan yang komplek, pembuatan keputusan terbatas, loyalitas merek dan inersia. Keempat tipe ini merupakan perpaduan tinggi rendahnya dua dimensi diatas.

Pada tipe pertama, yaitu pengambilan keputusan komplek dicirikan dengan perpaduan adanya keterlibatan yang tinggi dan adanya pembuatan keputusan. Pada pembuatan keputusan rendah, konsumen hanya memiliki keterlibatan rendah namun ada pengambilan keputusan. Pada tipe loyalitas merek, konsumen memiliki keterlibatan yang tinggi namun seberapa jauh ia membuat keputusan hanya bersifat kebiasaan. Pada tipe terakhir inersia konsumen memiliki keterlibatan yang rendah dan pembuatan keputusan sebatas kebiasaan. Pembuatan keputusan terlihat dari adanya proses pencarian informasi yang banyak dan adanya evaluasi terhadap merek. Dan pada pengambilan keputusan yang berdasar kebiasaan, konsumen tidak terlalu memikirkan proses pencarian informasi dan evaluasi terhadap merek.

2.1.7 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Membeli

Tujuan kegiatan pemasaran adalah mempengaruhi pembeli untuk bersedia membeli barang dan jasa perusahaan pada saat mereka membutuhkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan membeli berbeda-beda untuk masing-masing pembeli disamping produk yang dibeli. Faktor-faktor tersebut adalah :

  1. Lokasi penjual yang strategis
  2. Pelayanan yang baik
  3. Kemampuan, tenaga penjualnya
  4. Iklan dan promosi
  5. Penggolongan barang.

 

2.2 Kajian Penelitian Sejenis

Hasil penelitian dari (Aryuningsih) dengan judul “Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian Pasta Gigi”. Bahwa produk berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, harga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian, distribusi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa variabel harga merupakan faktor paling dominan dalam keputusan pembelian, hal ini disebabkan oleh koefisien harga paling tinggi yang diikuti oleh variabel distribusi.

Hasil penelitian dari (I Putu Agus Purnama Adi Putra dan I Wayan Santika) dengan judul “Pengaruh Bauran Pemasaran Terhadap Keputusan Pembelian Smartphone Nokia Di Kota Denpasar”. Bahwa bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi, dan distribusi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian Smartphone Nokia di Kota Denpasar. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 84,5 persen variasi dari keputusan pembelian disumbangkan oleh variasi dari variabel bauran pemasaran yang terdiri dari produk, harga, promosi, dan distribusi, sisanya sebesar 15,5 persen dijelaskan oleh variabel lain.

2.3 Kerangka PemikiranTeoritis

Atas dasar uraian pustaka dan hipotesis yang telah dikembangkan diatas, maka dapat disusun kerangka pemikiran untuk menggambarkan hubungan dari variabel indeoenden, dalam hal ini adalah Produk (X1), Harga (X2), Promosi (X3), dan Saluran distribusi (X4), terhadap variabeldependen Keputusan Pembelian (Y), yaitu sebagai berikut:

Gambar 2.2

Kerangka Pemikiran Teoritis

 

 

 

 

 

 

Sumber : Konsep yang dikembangkan dalam pembelian ini (2013).

2.4 Alat Analisis Yang Digunakan

Dalam menganalisis data penelitian ini, analisis yang digunakan adalah dengan menggunakan uji skala likert dan analisis regresi berganda.

2.4.1 Uji Skala Likert

Uji skala likert yaitu skala yang dikembangkan melalui metode likert, dimana subjek harus diindikasikan berdasarkan tingkatannya dengan pertanyaan yang berkaitan dengan perilaku suatu objek. Skala ini memberikan skor 1-5 untuk mengetahui derajat responden terhadap serangkaian pertanyaan yang terdapat di dalam kuesioner.

 

2.4.2 Regresi Linier Berganda

Regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,…Xn) dengan variabel dependen (Y). Maka persamaan regresi yang terbentuk sebagai berikut :

Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+…+bnXn
Keterangan:
Y                     : Variabel terikat (dependent)

X (1,2,3,…)      : Variabel bebas (independent)

a                      : Nilai konstanta

b (1,2,3,…)       : Nilai koefisien regresi

2.4.3 Uji Validitas dan Reliabilitas

Untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap pernyataan-pernyataan dalam kuesioner penelitian ini, peneliti menyebarkan keusioner kepada 183 responden.

  1. Uji Validitas

Validitas memiliki arti tentang derajat ketetapan suatu alat ukur tentang pokok isi atau arti sebenarnya yang diukur. Semua instrumen dianggap valid, apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Simamora 2004, p.172). Validitas berhubungan dengan apakah suatu instrumen mengukur yang seharusnya diukur. Uji validitas dilakukan untuk melihat pemahaman responden mengenai maksud dari pernyataan yang ada, sehingga jawaban yang diberikan akan mencerminkan keadaan sebenarnya. Menurut Sudarmanto (2002, p.88), butir pernyataan yang dikatakan valid adalah butir pernyataan yang memiliki korelasi (r) dengan total skor lebih besar dari 0,3 (r > 0,3).

  1. Uji Reliabilitas

Menurut Uyanto (2006, p.239), suatu instrumen pengukuran dikatakan reliable bila memberikan hasil skor yang konsisten pada setiap pengukuran. Alpha Cronbach merupakan salah satu koefisien reliabilitas yang paling sering digunakan. Menurut Nunnaly dan Bernstein (Uyanto, 2006, p.240), skala pengukuran yang reliable sebaiknya memiliki nilai Alpha Cronbach minimal 0,7. Alpha Cronbach dapat diinterprestasikan sebagai korelasi dari skala yang diamati dengan semua kemungkinan pengukuran skala lain yang mengukur hal yang sama dan menggunakan jumlah butir pernyataan yang sama.

2.4.4 Uji F (Uji Simultan)

Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabelbebas terhadap variabel terikat. Dimana Fhitung > Ftabel, maka H1 diterima atau secara bersama-sama variabel bebas dapat menerangkan variabel terikatnya secara serentak. Sebaliknya apabila Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima atau secara bersama-sama variabel bebas tidak memiliki pengaruh terhadap variabel terikat. Untuk mengetahui signifikan atau tidak pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat naka digunakan probability sebesar 5% (α= 0,05).

Jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima H1 ditolak. Jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak H1 diterima.

 

2.4.5 Uji T (Uji Parsial)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Dimana Ttabel > Thitung, H0 diterima. Dan jika Ttabel < Thitung, maka H1 diterima, begitupun jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima H1 ditolak dan jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak H1 diterima.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

3.1 Objek Penelitian

Menurut Suharsini Arikunto (1998: 15) objek penelitian adalah variabel atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian, sedangkan subjek penelitian merupakan tempat dimana variabel melekat”. Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis menggunakan objek penelitian pada warga Komplek Deppen – Kec. Sukatani 16954, Jakarta Timur.

Adapun yang akan dibahas terbatas hanya pada seberapa besar pengaruh produk, harga, promosi dan saluran distribusi terhadap variabel dependen, yaitu keputusan pembelian. Sebagai variabel independen pada penelitian ini adalah yang diberi lambang produk (X1), harga (X2), promosi (X3), dan saluran distribusi (X4) terhadap keputusan pembelian (Y). Sedangkan variabel dependen pada penelitian ini adalah keputusan pembelian yang diberi lambang (Y).

3.2 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu :

  1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh baik dalam bentuk lisan maupun tulisan dari hasil penelitian dalam bentuk wawancara dan kuesioner terkait objek penelitian.
  2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh melalui buku-buku dan literatur-literatur.

3.3 Data/ Variabel yang Digunakan

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek, atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya ( Sugiyono, 2007 : 2 ). Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu :

  1. Variabel Dependen adalah nilainya yang dipengaruhi oleh variabel independen (Husein Umar,2001). Dalam penelitian ini Variabel dependen adalah keputusan pembelian produk Pepsodent.
  2. Variabel Independen adalah Variabel yang menjadi sebab terjadinya atau terpengaruhinya variabel dependen ( Husein Umar,2001). Dalam penelitian ini variabel independenya adalah:
  3. Variabel Produk ( X1)
  4. Variabel Harga ( X2)
  5. Variabel Promosi ( X3)
  6. Variabel Saluran Distribusi (X4)

3.4 Metode Pengumpulan Data

Dalam melaksanakan penyusunan ini penulis mempergunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:

  1. Observasi

Penulis melakukan pengamatan langsung ke lokasi, yaitu Komplek Deppen – Kec. Sukatani untuk mendapatkan informasi yang di perlukan.

  1. Angket atau Kuisioner

Suatu teknik pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan yang telah disusun kepada responden, dengan harapan mereka akan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut.

  1. Wawancara

Selama observasi dilakukan, penulis juga melakukan wawancara dan komunikasi langsung dengan warga Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

3.5 Populasi dan Sampel

  1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh penelitian untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan (Sugiono, 2007:115). Populasi adalah sekelompok orang, kejadian atau segala sesuatu yang mempunyai karateristik tertentu (Kuncoro, 2013). Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen pasta gigi Pepsodent yang bertempat tinggal di Komplek Deppen – Kecamatan Sukatani.

  1. Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sugiyono, 2007:116). Tekhnik pengambilan sampel yang digunakan oleh penulis adalah metode sampel (judgement sampling) yaitu sampel yang diambil sesuai dengan karakteristik populasi yang diinginkan, siapapun responden yang bersangkutan, dimana dan kapan saja ditemui dijadikan elemen-elemen sampel penelitian (Hamid, 2007:32). Pengambilan sampel didasarkan pertimbangan bahwa responden pernah membeli atau mengkonsumsi produk Pepsodent dan pernah melihat iklan Pepsodent di televisi. Sampel yang akan dipilih oleh penulis sebagai sumber data yang dibutuhkan untuk penelitian ini adalah para konsumen Pepsodent. Sedangkan untuk ukuran sampel penelitian menurut Roscoe dalam buku research methods for business (Sugiono, 2010:52) menyatakan bahwa ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30 sampai 500. Jumlah sampel dalam penelitian adalah sebanyak 183 responden yang merupakan konsumen Pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Dimana :

n= Jumlah sample,

N= Jumlah Populasi,

e = Batas toleransi kesalahan (misal 5 % atau 10 %)

Berdasarkan rumus tersebut, maka jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah:

= 183 responden

3.6 Hipotesis

Adapun hipotesis yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini antara lain :

  1. Ho : Tidak ada pengaruh bauran pemasaran antara (X1) produk, (X2) harga, (X3) promosi, dan (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh bauran pemasaran antara (X1) produk, (X2) harga, (X3) promosi, dan (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen- Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X1) produk terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X1) produk terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X2) harga terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X2) harga terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X3) promosi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X3) promosi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

  1. Ho : Tidak ada pengaruh (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

Ha : Ada pengaruh (X4) saluran distribusi terhadap keputusan pembelian pasta gigi pepsodent di Komplek Deppen – Kec. Sukatani.

3.7 Alat Analaisis Yang Digunakan

Metode yang digunakan penulis dalam mengelola data adalah dengan menggunakan metode uji skala likert dan analisis linier berganda.

3.7.1 Uji Skala Likert

Uji skala likert adalah skala yang dikembangkan melalui metode likert, dimana subjek harus diindikasikan berdasarkan tingkatannya dengan pernyataan yang berkaitan dengan perilaku suatu objek. Skala ini memberikan skor 1-5 untuk mengetahui derajat responden terhadap serangkaian pertanyaan yang terdapat didalam kuesioner. Berikut ini adalah penilaian tingkat kepuasan pelanggan:

Mutu Bobot
Sangat Setuju 5
Setuju 4
Normal 3
Tidak Setuju 2
Sangat Tidak Setuju 1

Keterangan :

  1. Jawaban Sangat Setuju diberi nilai 5
  2. Jawaban Setuju diberi nilai 4
  3. Jawaban Normal diberi nilai 3
  4. Jawaban Tidak Setuju diberi nilai 2
  5. Jawaban Sangat Tidak Setuju diberi nilai 1

3.7.2 Regresi Linier Berganda

Regresi linier berganda adalah hubungan secara linier antara dua atau lebih variabel independen (X1,X2,…Xn) dengan variabel dependen (Y). Maka persamaan regresi yang terbentuk sebagai berikut :

Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+…+bnXn
Keterangan:
Y                     : Variabel terikat (dependent)

X (1,2,3,…)      : Variabel bebas (independent)

a                      : Nilai konstanta

b (1,2,3,…)       : Nilai koefisien regresi

3.7.3 Uji Validitas dan Reliabilitas

Untuk melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap pernyataan-pernyataan dalam kuesioner penelitian ini, peneliti menyebarkan keusioner kepada 183 responden.

  1. Uji Validitas

Validitas memiliki arti tentang derajat ketetapan suatu alat ukur tentang pokok isi atau arti sebenarnya yang diukur. Semua instrumen dianggap valid, apabila mampu mengukur apa yang diinginkan (Simamora 2004, p.172). Validitas berhubungan dengan apakah suatu instrumen mengukur yang seharusnya diukur. Uji validitas dilakukan untuk melihat pemahaman responden mengenai maksud dari pernyataan yang ada, sehingga jawaban yang diberikan akan mencerminkan keadaan sebenarnya. Menurut Sudarmanto (2002, p.88), butir pernyataan yang dikatakan valid adalah butir pernyataan yang memiliki korelasi (r) dengan total skor lebih besar dari 0,3 (r > 0,3).

  1. Uji Reliabilitas

Menurut Uyanto (2006, p.239), suatu instrumen pengukuran dikatakan reliable bila memberikan hasil skor yang konsisten pada setiap pengukuran. Alpha Cronbach merupakan salah satu koefisien reliabilitas yang paling sering digunakan. Menurut Nunnaly dan Bernstein (Uyanto, 2006, p.240), skala pengukuran yang reliable sebaiknya memiliki nilai Alpha Cronbach minimal 0,7. Alpha Cronbach dapat diinterprestasikan sebagai korelasi dari skala yang diamati dengan semua kemungkinan pengukuran skala lain yang mengukur hal yang sama dan menggunakan jumlah butir pernyataan yang sama.

3.7.4 Uji F (Uji Simultan)

Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabelbebas terhadap variabel terikat. Dimana Fhitung > Ftabel, maka H1 diterima atau secara bersama-sama variabel bebas dapat menerangkan variabel terikatnya secara serentak. Sebaliknya apabila Fhitung < Ftabel, maka H0 diterima atau secara bersama-sama variabel bebas tidak memiliki pengaruh terhadap variabel terikat. Untuk mengetahui signifikan atau tidak pengaruh secara bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat naka digunakan probability sebesar 5% (α= 0,05).

Jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima H1 ditolak.

Jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak H1 diterima.

 

3.7.5 Uji T (Uji Parsial)

Uji ini digunakan untuk mengetahui apakah masing-masing variabel bebasnya secara sendiri-sendiri berpengaruh secara signifikan terhadap variabel terikat. Dimana Ttabel > Thitung, H0 diterima. Dan jika Ttabel < Thitung, maka H1 diterima, begitupun jika sig > ά (0,05), maka H0 diterima H1 ditolak dan jika sig < ά (0,05), maka H0 ditolak H1 diterima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: